MOS ( Masa Orang Stress )


Ini bukan sekedar MOS dengan membawa tas gandum, yang isinya pupuk kotoran kandang dengan tanaman palawija. Dan disuruh membawa makanan aneh-aneh dari kakak panitia yang kurang kerjaan. Gue rasa hanya masa-masa sekolah pertama yang biasa, dengan pengalaman dikerjai kakak kelas, kakak kelas yang mencoba jadi senior bermuka tua.

Lihat aja, tampang-tampang yang jadi panitia MOS, nggak ada yang wajahnya santai sama juniornya, misal matanya itu berkedip, santai nggak ada beban yang ditahan kedipannya, sampek mata perih. Beda kalau panitia yang menjadi senior bermuka tua, pasti wajah-wajahnya datar kayak mayat idup, lurus, walaupun mukanya berjerawat segede upil 2,5 ons pun tetep pede, jerawatnya bikin nyut-nyutan tetep ditahan, hingga jerawatnya pecah tetep dianggap amnesia rasanya. Hingga gaya ngedipin mata aja diatur agar terlihat serem. Matanya melotot, terus saat kedip, dengan gengsinya sampai nggak fals berkedip dihadapan juniornya. Itu caranya gimana, gue bingung juga nggak tau teorinya. Apalagi kalau matanya kelilipan, tetep berusaha menahannya walau matanya perih, hingga beleken sampai merah bernanah pun dilakoni ditahan sekuat tenaga. Orang kebelet boker aja kalau ditahan itu rasanya ngilu gigit bibir, apalagi mata belekan, keram ototnya buat nahan. Itu demi julukan : senior bermuka tua yang nggak fals.

Sampai akhirnya Masa Orientasi Siswa udah kelar, tapi keadaan mental gue sendiri malah jadi sekarat, setelah diluar prediksi selama MOS. Mental anak STM bukannya harus jadi mental baja tapi malah diawali dengan mental tempe, gara-gara MOS.

Itu karena keadaan temen-temen kelas. Bukan karena senior yang nyuruh bawa macem-macem, dan ngebentak-bentak juniornya dengan suara menyerupai aparat yang gagal. Nyempreng amat ngebentaknya, apalagi dengan vibra yang menyerupai nenek lampir menggigil kedinginan.

Huh, temen-temen kelas diluar dugaan. Apa yang bakal terjadi dengan 4 lelaki dalam 28 wanita dalam satu kelas? TIDAAAAK ! Ini seriusan? Semoga aja 28 wanita itu banyak yang berkelamin ganda, terus operasi memilih jadi lelaki. Aminn. Aneh banget kan satu kelas lakinya hanya ada 4.

OOO

Diawali pertama masuk STM dengan memilih satu jurusan diantara sembilan yang lain, semangat memilih jurusan dengan : icik icik kebum-bum ala kebungbung, jurusan yang dipilih pasti nyambung. Ehem ehem.

Yap! Dengan nggak memikirkan apa-apa, gue memilih seperti menghitung kancing baju, banyak banget sob jurusannya, ada 9 soalnya! Gue memilih dengan cara icik-icik kebum-bum tersebut jadinya. Mau nyoba dengan cara cupacup kembang kuncup, tapi nggak jadi, gue udah terlanjur terlena sih dengan icik-icik kebum-bum.

Terus jatuhlah dalam pilihan jurusan Kimia Industri. Gue langsung tertarik aja dengan pilihan tanpa sengaja itu.

‘Bapak, pak..aku milih jurusan ini!’ Gue bilang sama bapak dengan wajah sumringah dengan tersenyum giginya keliatan.

‘Yakin kamu, Wan?’

‘Yakin bapak. Paling banyak diminati, terus kayaknya menarik.’

Gue pikir dengan sok tau, gue kalau milih jurusan ini, gue bakal menjadi ahli kimia. Terus gue bakal meramu-ramu cairan kimia seperti di tipi-tipi. Cairan warna ijo ditambah warna merah dan dikombinasikan dengan warna lain seperti oranye misalnya. Hasilnya akan bereaksi lalu ‘BOOM!’ Jadi rambu-rambu lalu lintas. Eh bukan. Hasilnya akan meledak, suaranya ‘BOOM!’ seperti kentut meletus dibarengin ledakan ban meletus ketancep kawat. Percobaan yang gagal sepertinya sodara-sodara.

Itulah ke-keren-an seorang ahli kimia dengan percobaan yang gagal, lalu melakukan percobaan lagi hingga wajahnya gosong kena ledakan. Hingga pada suatu percobaannya berhasil. Tapi raut wajahnya udah nanggung banget kayak aspal, saking gosong yang terlanjur akut, akibat kena ledakan dari percobaan yang selalu gagal. Entah kenapa itu yang selalu dibenak, mungkin karena otak gue udah terkontaminasi akut dengan acara nggak bermutu di tipi-tipi. Tapi masih ada alasan lain mantab milih jurusan Kimia Industri. Alasan itu adalah : jurusan elite. Cie, elite.

Berlanjut peroses selanjutnya saat itu, mengisi form pendaftaran, dengan bapak gue sibuk mondar-mandir nyariin sesuatu yang aneh. Bapak gue nyariin cemilan buat pengganjal perut. Soalnya lama nungguin antree, kelaperan bapak gue barang kali. Bingung bapak gue, sekolahnya luas banget. Padahal yang gue butuhin itu adalah pulpen buat ngisi form pendaftaran, malah bapak gue sibuk bertanya pada pihak sekolah.

‘Maaf pak, kalau beli makanan kecil enaknya dimana ya? Seperti keripik singkong?’

‘Di kantin sekolah, nanti dari sini terus lurus aja sampai ketemu masjid mujahidin itu, nah deket situ pak. Tapi kalau keripik singkong, nggak ada pak sepertinya. Adanya keripik kentang.’ Jawab bapak-bapak yang rambutnya berponi setengah.

Betapa nggak pentingnya gitu, masa-masa pendaftaran pelajar baru, malah asik ngomongin keripik buat cemilan. ‘Pak, beli pulpen, beli pulpen jangan lupa, pulpennya lupa kebawa, ini cuma ada pensil pak!’ Pinta gue yang sedang duduk di lantai Auditorium depan.

‘Lupa bawa pulpen, Wan? Teledor kamu itu! Teledor!’ Kebiasaan bapak, ngatain gue anak yang teledor. Karena gue suka cuek-cuek terhadap sesuatu pas lagi dibutuhkan.

‘Hehe. Sekalian juga materai 6000 juga ya pak?’ Pinta gue lagi.

‘Loh teledor lagi kan!’ Ketus bicara bapak.

‘Loh kan emang belum beli materainya, gimana sih pak.’

‘Oh yaudah, tunggu disini sebentar, Wan.’ Bapak gue lalu nyamperin kantin.

Keadaan sekitar Auditorium yang rame akan bapak-bapak yang berisik terhadap kebutuhan anaknya, dan para anaknya yang seolah-olah menjadi bos. Karena nyuruh-nyuruh orangtuanya buat beli ini dan itu. Seolah-olah hari pendaftaran waktu itu adalah masa penderitaan orangtua. Kasihan bener ada seorang bapak yang stres hingga anaknya rewel dan nangis. Bapak itu bingung, antara beli kebutuhan seperti pulpen atau beli balon buat anaknya yang nangis. Ini padahal bukan acara kuda lumping, yang banyak abang-abang jualan balon. Anak macam apa mau masuk STM aja rewel. Seperti bayi aja anak itu. Kasihan orangtuanya jadi tambah stres kuadrat. Hingga wajahnya menyerupai zombie yang matanya nggak bisa kedip. Matanya melotot terus semacam zombie bengong. Tapi matanya nggak beleken. Masa zombie matanya beleken, nggak keren amat.

Nggak menunggu lama, bapak gue datang membawa kabar gembira dengan nentengin sesuatu di kedua tangannya, bahwa ternyata keripik singkongnya dijual dikantin, pulpen dan materai 6000nya kebeli. Dan gue menanggapinya biasa aja, nggak sampai, ‘Hore..hore..hore..bapak bawa kabar gembira..hore..’ Sambil loncat kegirangan.

Selanjutnya gue ditemenin bapak, mengisi form itu dengan sebenar-benarnya. Bapak gue nggak peduli, yang dia pedulikan makan keripik singkongnya sambil duduk disamping gue. Santai banget bapak gue, dengan cemilan keripik singkongnya. Nggak seperti bapak yang tadi, stress gara-gara anaknya nangis entah kenapa. Pasti bapak itu bingung mau nyari balon kemana.

OOO

Nah! Pasti kaget, gue belum ngasih tau bahwa di STM Pembangunan tempat gue sekolah ini, masa belajarnya 4 tahun. Dan di jurusan gue ini lakinya beneran hanya ada 4, sisanya para wanita yang belum jelas pribadinya seperti apa. Entah itu kalem, beringas, baik, lebay, dan gila.
Sekolah yang aneh karena 4 tahun, ditambah kelas yang diluar bayangan gue dengan notabennya STM. Gue ini mimpi, gue kayaknya lagi mimpi. Berasa paling ganteng sendiri di kelas. Tapi macam mana pula sekolah baru yang bakal jadi kehidupan gue selanjutnya ini. Nggak seperti keinginan gue banget.

Awal-awalnya STM akan membuat gue gagah dan menjadi laki yang berjiwa keras. Emang bener sih, itu buat jurusan lainnya yang penuh dengan laki, seperti jurusan otomotif. Tapi nggak di jurusan gue ini, kayak bukan STM, melainkan SMEA yang penuh calon ibu-ibu PKK atau tata boga. Stress sendiri gue, 28 wanita yang belum bisa gue maklumi. Salah gue juga, waktu pendaftaran nggak memantau hingga pengumumannya, gimana anak-anaknya yang masuk di jurusan Kimia industri ini.

‘Hei, hei, ssst..ssst.’ Gue nyapa salah satu lelaki yang ada, saat hari pertama masuk sekolah sehabis MOS. ‘Nama lo siapa? Gue lupa.’ Gue ajak salaman.

‘Gue Angga, lo Ridwan kan?’ Jawab dia dengan kalem dengan senyumnya yang aneh, kayak lagi sariawan bibirnya gemeteran.

‘Ridwan, iya, eh, Ngga, ini nggak salah kelas kita?’

Gue sama Angga duduk sebangku, dan paling belakang pojok kanan. Sementara 2 laki yang lain sebelahnya.

‘Kayaknya sih enggak.’ Jawab dia slow.

‘Kayaknya salah, ini kan STM, bukan SMEA?’

‘Bentar gue cek dulu.’ Dia lalu tengok ke depan, tanya sama wanita berkacamata. ‘Eh, eh, ini STM kan? Bukan SMEA?’

Jawab wanita itu, ‘Nggak tau juga, bentar.’ Wanita itu tanya sama temen sebangku. ‘Tem, tem, ini sekolah apasih.’

‘Ini sekolah buat masa depan kita, pokoknya kita harus semangat, Tuyul.’ Jawab dia dengan menepukkan tanggannya, jawaban dia yang melenceng dari maksud.

‘Semangat!’ Jawab wanita berkacamata dengan genggaman tangannya yang diangkat, namanya wanita itu Tuyul. ‘Tapi Tem, ini kok bau busuk apaan ya Tem? Bikin nggak semangat banget.’ Tanya Tuyul lagi sambil nutup idungnya.

Mungkin mendengar omongannya Tuyul, Angga langsung meresponnya. ‘Eh, bentar ya, gue mau keluar kelas dulu.’ Pamit Angga dengan lubang idungnya ngos-ngosan dan bibir gemeteran. Tanda-tanda kebelet boker.

‘Oke.’ Jawab gue singkat.

Wanita depan gue ini sangat antusias banget, yang satu kecil berkacamata yang dijuluki Tuyul. Tingkahnya hiper, ini wanita udah gue pahami kalau ibunya hiper ngasih asi waktu bayi, gilak omongannya cepet banget. Dan yang satunya gede bongsor, gemuk mukanya bulet. Namanya Tami, dipanggil Temi. Nah, yang ini calon motivator, kerjaannya ngasih semangat muluk.

Gue sama Angga sempat berdiskusi kecil bersama mereka, tentang kelas sampai pengalaman masing-masing. Nggak abis pikir, gue sampek ketawa terbahak-bahak saat itu, gue tertawa terbahak-bahak karena stress. Wanita yang satu omonganya cepet amat dengan bibirnmya yang kayak roda balap. Yang satunya kayak monster penyemangat hidup, dengan sifatnya kayak mbak-mbak sales panci, yang datengin tiap rumah-rumah, dengan semangatnya menggebu-gebu nawarin buat beli panci anti karat dan lengket.

Dua wanita yang baru gue kenal aja udah bikin gue stres dengan banyak pertanyaan, ‘Heh? Manusia macam apa lo? Turun dari planet mana lo? Ibu lo beneran manusia kan? Asinya asi normal kan?…’ Gimana dengan sisa wanita yang lain, 26 wanita yang belum gue pahami betul.

Seminggu, hingga sebulan lamanya gue menjalani hari-hari yang menyebalkan. Soalnya sob, para wanita yang awalnya masih kalem belum muncul sifat aslinya, setelah beberapa bulan, seiring akrabnya dengan temen-temen baru di kelas munculah sifat asli mereka : hobi ngerumpi.

Sebagai anak STM, istilah ngerumpi untuk bergosip ria itu hal yang tabu, untuk diperbincangkan dan dikupas dengan tajemnya setajem silet. Fenny Rose banget para wanita itu. Kalau udah ada topik yang hangat yang dibicarain wanita sebangku, telinga para wanita yang lain langsung peka gerak-gerak, tajem bener reaksinya, lalu mereka nimbrung sumbernya dan mulailah topik itu sampai dikupas tuntas dengan gosip-gosip ala anak STM masa kini. Dengan alay binti santai.

Gue geleng-geleng nggak bisa mencernanya, berasa terjebak beneran dalam ibu-ibu arisan yang lagi gosip santai. Berisik banget mereka, seriusan mereka itu manusia dengan kelebihan asi campur cendol masa bayinya. Omongannya wanita satu, langsung disambar omongan wanita yang lain, disamber lagi dan disamber lagi. Seperti kalau lagi ngetweet, elo sob, bisa ngetweet puluhan kali dalam sedetik. Ya kayak para wanita itu, satu detik yang cerewet banyak, nggak cuma satu mulut, tapi puluhan mulut. Keren nggak tuh, sampai bikin kuping gue tetep nggak ada tahannya walau pakek headset dengan musik keras. Tetep aja suara para wanita ngejebol musiknya hardcore.

Awal sekolah harusnya dengan ceria-ceria wajahnya. Dan semangat duduk di bangku kelas masing-masing. Itu nggak berlaku bagi gue, mungkin Angga, Bondan, dan Andri hampir berpikiran sama dengan gue.

‘Ngga, gue beneran stres di kelas, berisik banget wanitanya.’ Gue sambil nyeruput es kelamud.

‘Haha, kalem aja, Wan.’ Jawab dia santai.

Gue lagi makan dikantin depan laboratorium, bersama ketiga lelaki. Menikmati semangkuk mi ayam saat istirahat pertama.

‘Gimana kalau kalian?’ Tanya gue sama Bondan dan Andri.

‘Gue suka.’ Jawab Andri.

‘Gue juga.’ Jawab Bondan.

Gue pikir, mereka pada suka soalnya suka ngerumpi juga sama para wanita. Dan ternyata benar. Sering kali waktu pelajaran teori belum dimulai, gue baru menyadari mereka asik gabung dalam forum-forum ngerumpi ria.

Ini seperti kesan MOS yang berbeda buat gue beserta ketiga lelaki.

Angga, MOS (Masa Orang Santai)

Andri dan Bondan, MOS (Masa Orang Suka-suka)

Gue, MOS (Masa Orang Stress!)

Gue bukan lagi stress gara-gara para wanita yang aneh. Tapi sekarang gue stress gara-gara kaum gue sendiri. Yaitu ketiga lelaki lain ternyata juga sama-sama aneh. Gue berasa masuk planet aneh, dengan nama planetnya ‘Planet Kelas Aneh Laki Aneh Wanita Juga Aneh.’ Kepanjangan banget ya namanya, disingkat aja dengan sebutan : Planet KALAWAJA.

Dan nama planetnya pun : ANEH!

OOO

AWALI DENGAN PENYEGARAN OTAK


Pagi hari.
Sungguh nikmat rasanya posisi tengkurap, terlentang, guling-gulingan, dan apa aja posisi yang bikin ngulet itu lebih berseni. Kamar yang berantakan, kasur penuh noda nakal, noda yang selalu hadir diantara bantal-bantal dan guling. Noda itu adalah iler bandel. Ibu gue nggak henti-hentinya ngomelin gue tiap nyuci.

‘Ridwan! Kesini!’ Perintah ibu, gue bergegas nyamperin ibu yang lagi nyuci. ‘Ini noda apaan, Wan? Lagi-lagi kamu bandel ya jadi anak.’

‘Bandel gimana sih buk?’ Gue heran, padahal gue selalu baik sama anak tetangga dan nggak suka minum es hingga mempunyai penyakit bandel, eh itu amandel nding.

‘Sampai kapan sarung bantal kamu kayak gini, penuh batik dari iler kamu nih.’

‘Ibuk itu berseni tinggi kayak cita-cita aku yang tinggi buk. Itung-itung nggak jadi sekolah seni, tidur berseni boleh lah buk hehe.’

‘Seni jijik tahu nggak?’

‘Hehe, campur umbel ya buk ilernya? Maklum buk lagi musim pilek nih hehe.’ Gue pelan-pelan menjauh dan kabur.

Emang mulut gue sebagai reaktor, rajin bener memproduksi iler disetiap molor gue yang pules. Gue terkapar dalam bawah alam sadar. Dengan mulut melongo seperti jurang yang mengalir air iler dibawahnya, istirahat gue yang sangat nyenyak. Gue nggak mau tau, sampai jam berapa, biarin pokoknya. Minggu ini akan sangat panjang, bahwa kemerdekaan molor kali ini ialah hak segala manusia dan oleh sebab itu, maka segala pengganggu tidur pagi hari harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikengantukan dan perkemoloran.

#Meldeka!

#Molorrr.

Semoga gue nggak boleh disadarin Tuhan, dari rasa molor nyenyak yang terdalam ini. Gue boleh ngiler aja, nggak papa asal nggak banjirin kamar sebelah, ntar bakal ngamuk orangtua gue.

Terlintas ada anak sapi ngenyutin anu emaknya dalam bunga molor. Bayi sapi itu nyeruduk-nyeruduk teteknya ibu sapi. Dengan bersemangat anak sapi pengen nenen. Gue hanya ngiler, nggak mupeng karena ngiler. Gue hanya terkapar dalam cairan iler.

Pukul 5 pagi. Cepet banget waktu itu, ketika gue melihat jam, saat gue dibangunin malaikat gemuk. Ternyata itu bapak, dengan tangannya yang besar mengobrak-abrik selimut gue. Nyawa gue yang tercecer seperti iler gue yang tercecer kemana-mana, mulai menjalin persatuan dan kesatuan, gue tersadar. Kalau udah bangun kayak gini, pertanyaan pertama yang gue lontarkan adalah, ‘Dimana handuknya?’ gue serasa habis membasuh muka dengan cairan iler.

Huh, gue udah nggak bisa molor lagi. Dengan berat hati, gue masukin iler yang udah tercecer. ‘Ah bapak kenapa bangunin jam segini?’ Gue radak jengkel.

‘Mau sampai jam berapa, tidur nggak bangun-bangun, udah siang ini.’

‘Harusnya bapak bangunin jam 2 pagi, baru jam 5 kok dibilang siang.’

‘Anak ngeyel, jangan tidur lagi, bapak mau pergi dulu. Motornya bapak pakai bentar. Udah siang ini buat sholat subuh.’ Bapak gue lalu keluar dari kamar gue. Dan bergegas pergi dengan motor tua gue.

‘Aaaaah! Pengen molor lagi.’ Gue bicara sendiri, ketika bapak mulai menghidupkan motor. Gue lalu mencari air dengan setengah sadar, wudhu lalu subuhan.

Jogja ternyata hari ini mulai bersinar, padahal baru jam 5an. Eh ternyata sinar itu bukanlah sinar mentari, melainkan bulan yang seolah-olah sangat deket dengan bumi. Beneran, gue liatnya dari depan rumah bulan masih bersinar terang dengan bentuknya yang bulet besar.

Tapi gue tetep dalam medan magnet kasur yang nyaman. Gue mencoba kembali ngulet-ngulet dikasur. Gue sebetulnya masih pengen molor lagi aja rasanya. Biar gue nggak kepikiran sesuatu yang nggak penting buat dipikirkan. Gue ingin molor aja dalam bunga molor yang dalem. Sedalem tanpa sadar gue nggali upil dalam lubang napas, lubang yang penuh bulu rimbun. Gara-gara bapak gue nih, serasa mengganggu hak asasi gue yang sedang pules.

Jendela kamar gue masih tertutup rapat, dengan gorden putih yang selalu setia mendampingi jendela. Sayangnya radiasi sinar matahari nggak pernah gagal menerobos kamar gue melalui setiap celah yang ada -sesempit apapun itu- dan menguapkan molekul-molekul malas dari ruangan ini. Tapi gue lagi ingin bermalas-malasan, bukan karena gue kena pengaruh radiasi malas. Mungkin karena lagi pengen malas aja. Tapi inget loh gue bukan pemalas, cuma lagi ingin malas.

Hari ini gue baru aja mengalami sensasi kemerdekaan, sama seperti hari-hari yang udah terjadi. Karena apa? Karena gue abis buang hajat, sangat lega seperti mengusir penjajah dari dalem perut. Walau cara mengusir penjajahnya dengan perjuangan yang sangat simpel dan nggak banget kalau disebut mengusir penjajah, yaitu dengan perjuangan ngeden. Cukup, hanya dengan ngeden, itu aja perjuangannya. Perjuangan yang aman juga, tanpa menumpahkan darah, hanya menumpahkan air untuk cebok. Ngeden yang enak dilakukan saat jongkok atau duduk. Jangan ngeden disaat ngesot, jangan piker juga suster ngesot kalau ngepup dengan cara ngesot. Dia kalau ngeden harus memakai closed duduk, soalnya kalau jongkok dia nggak bisa. Jangan ngeden saat berdiri juga, itu seperti unggas dan itu sangat aneh. Lihat saat ayam ternak yang gue miliki, nggak enak banget mukanya ayam saat ngeden dengan berdiri.

-BERSAMBUNG-

PENGERTIAN PERIBAHASA CINTA


Gambar

 

Berikut makna peribahasa antara yang pintar dan bodoh :

 

A. Hati tak bertulang galau pula sering bertuan.

 

Makna pintar : Perasaan yang mudah berubah, kadang perasaan galau yang sering menyerang pada akhirnya.

 

Contoh : Kadang merasa kecewa, kadang merasa sakit hati, kadang berubah bahagia kemudian tersakiti dikhianati. Akhirnya galau selalu menyerang.

 

Makna bodoh : Hati emang organ yang nggak bertulang makannya bikin galau, karena tulangnya terbakar cemburu saat memergoki pacar selingkuh.

 

B. Asam di darat Ikan di laut, temu dalam belanga.

 

Makna pintar : Antara lelaki dan perempuan kalau berjodoh, bertemu juga akhirnya.

 

Makna bodoh : Pohon asam itu emang tumbuh di daratan, sedangkan ikan hidup di air seperti di laut karena bernapas dengan insang. Akhirnya pohon asam dengan ikan ketemuan nggak sengaja dalam satu lokasi akhirnya cinlok. Terus nikah punya anak blesteran deh.

 

C. Awak hendak ke hilir, ia hendak hanyut.

 

Makna pintar : Keinginan untuk berpacaran dengan wanita, yang disukainya diam-diam selama 3 tahun, tapi didahului lelaki lain yang suka selama 3 detik.

 

Nasehat gue : Jika nyampek 30 tahun sepertinya akan mendapat penghargaan Jombo sabar tingkat 120. Buruan nikah woy sebelum jadi ABG tua yang tingkahmu semakin gila…

 

Makna bodoh : Gue naik perahu menuju ke hilir, tapi hanyut karena tiba-tiba hujan deras akibatnya banjir. Akhirnya mati dan ngambang sampai tiba ke hilir.

 

D. Awal dibuat, akhir diingat.

 

Makna pintar : Sebelum memutuskan untuk pacaran, lebih baik dipikirkan betul-betul agar hubungannya selamat.

 

Contoh : Gue pacaran dengan seorang perempuan yang gila jalan. Jalan ke afrika, jalan ke china, jalan ke perancis. Padahal ketemunya di parangtritis lagi jualan softdrink. Akhirnya gue terjebak dalam suatu penderitaan karena merasa ditipu dengan modus tersebut.

 

Makna bodoh : Pertamanya seneng membuat, akhirnya diingat-ingat karena lupa cara membuatnya gimana. Apaan coba!

 

E. Burung baru belajar terbang.

 

Makna pintar : Baru cukup umur untuk memulai cinta.

 

Nasehat gue : Tontonlah jenis film pada masanya. Seperti film Doraemon aman untuk anak-anak. Film Virgin diperbolehkan untuk 17+. Dan film Horor Indonesia bagi lelaki hidung belang yang menanti-nanti lauk dada dan paha atas, yang ternyata digondol pocong. #padahal pocong nggak punya tangan.

 

Makna bodoh : Burung itu akhirnya belajar terbang karena malu saudaranya udah beterbangan dengan kekasihnya.

 

F. Kambing seekor gembala tiga.

 

Makna pintar : Seseorang yang mempunyai banyak gebetan/ pacar.

 

Nasehat gue : Bersedekah, dengan memberikan 1 gebetan kepada fakir gebetan. Buat gue contohnya.

 

Makna bodoh : Hanya ada satu kambing, tapi yang menjaganya tiga orang. Karena kambingnya teroris.

 

G. Badan boleh dimiliki, hati tiada dimiliki.

 

Makna pintar : Status pacaran bilangnya sayang-sayang, tetapi hatinya masih ada dimantannya.

 

Nasehat gue : Yang sudah ya sudah..alias ‘sek uwes yo uwes’. Jangan menjadi pembohong, karena rasanya seperti dibohongi.

 

Makna bodoh : Seperti wanita panggilan.

 

H. Bagai marmut mencari spesiesnya.

 

Makna pintar : Usaha mencari pacar tanpa putus asa. Walaupun seringkali ditolak melulu. Merasa jatuh, bangkit lagi. Ditolak lagi cari yang lain dan ditolak lagi, mencari lagi. Sampai akhirnya mendapatkan pacar. Intinya jangan menyerah kata abang rian yang jualan cilok dan cireng deket sekolah.

 

Makna bodoh : Sepertinya marmut tersesat dalam hutan liar dalam mencari spesiesnya, lalu bertanya kepada pemirsa karena merasa galau harus lewat hutan marmut atau hutan singa. #Dora The Explorer bangettttttt….

 

I. Bagai anjing terjepit anunya.

 

Makna pintar : Kesedihan karena tersakiti organ tubuhnya. Seperti hati yang sakit.

 

Makna bodoh : Anunya anjing nggak sengaja tersunat.

 

Nasehat gue : Belikan sarung yang banyak, takutnya bakal sobek digigitin anjing.

 

J. Bagai tukang cendol dengan penggemar cendol.

 

Makna pintar : Suatu kecocokan yang berkaitan. Pada akhirnya saling membutuhkan.

 

Nasehat gue : Tambahin gula karena kurang manis, mentang-mentang abang cendolnya udah ada yang manis.

 

Makna bodoh : Si tukang cendol bakal jadi artis karena udah ada fans setianya. Terus nanti banyak yang mention ‘polbek yua abang cendol…’ Dan ‘Pesen cendolnya dong bang’

 

K. Bagai jalan gue dengan jalan Raditya Dika.

 

Makna pintar : Jalan kesuksesan sama, tetapi jalan cinta tidak sama. Karena percintaan gue lebih beruntung darinya.

 

Makna bodoh : Jalan gue biasanya lewat jalan malioboro sedangkan Raditya Dika lewat jalan kegalauan no. 5.

 

Nasehat gue : Sisirin bulu ketek biar ganteng.

 

 

A. AWAL KEMERDEKAAN HARI INI


Gambar

 

Jogjakarta

 

Pagi ini.

Kamar berantakan, kasur penuh noda nakal hasil mulut memproduksi iler. Gue terkapar dalam bawah alam sadar. Gue nggak mau tau ini jam berapa, biarin pokoknya. Gue nggak boleh sadar. Gue boleh ngiler aja. Terlintas ada anak sapi ngenyutin anu emaknya dalam mimpi. Gue hanya ngiler, nggak mupeng karena ngiler. Gue terkapar dalam cairan iler.

 

Jogja hari ini mulai bersinar, tapi gue masih ngiler dalam bunga molor yang dalam. Sedalam tanpa sadar gue nggali upil dalam lubang napas, penuh bulu rimbun. Sayangnya radiasi sinar matahari nggak pernah gagal menerobos kamar gue melalui setiap celah yang ada -sesempit apapun itu- dan menguapkan molekul-molekul malas dari ruangan ini.  Tapi gue lagi ingin bermalas-malasan, bukan karena gue pemalas. Karena mulai hari ini nggak ada lagi alasan untuk rajin mematuhi jadwal sekolah. Yeah. Nggak ada sekolah.

LULUS !! Nggak pengen nerusin kuliah dulu.

*goyangPantat* *ehhh*

 

Hari ini gue baru aja mengalami sensasi kemerdekaan. Lebih menyenangkan dari perasaan anak kecil yang melompat girang di lomba agustus-an. Gue melompat dari puncak, dalam lomba panjat pinang bung. Gue dapet sabun! Gue dapet shampo! Gue dapet susu bubuk kemasan plastik! Dan lebih mengharukan dari suasana kemerdekaan 1945 yang pernah gue baca dibuku sejarah. Para penonton lebih terharu lagi, gue tergeletak dalam sakratul maut terjatuh dari puncak pohon pinang! Gue terkapar memegang susu kemasan plastik! *kejang-kejang*

 

Beranjak dan gue jejakan kaki keluar, angin segar langsung menggoyangkan alis tebal gue. Alis tebal tanpa ketombe tanpa kerontokan pula. Karena rutin alis tebal dikeramasi majikannya. Serta mulut gue, memuncratkan cairan kemana-mana. Anginnya serasa secepat mobil balap. Menikmati matahari hanya melalui celah-celah awan putih sebagai pembalut. Pembalut yang cukup tebal dan anti mengkerut untuk gue pandangin. Sebuah pembalut yang elastis, bisa memuai pula sesuai keadaan penikmatnya. Seperti gue menikmati kesegaran angin pagi ini ditemani bau mulut gue yang menggelegar. Sejenak gue natap langit  yang membentang dari segala penjuru. Ahh. Andai langit adalah cermin, pasti para manusia dapat meliat orang yang ganteng saat gue ngaca. Dan gue mengibaskan poni tebal gue, mereka langsung berseru, “Lindungi rambut sodara-sodara! Awas, kutu ganas..awas hujan salju…awas sodara-sodara setanah air bangsa…!!! “

 

Pagi ini nggak ada namanya terlambat sekolah lagi. Yap bener. Nggak ada tuntutan pelajar dimarahin guru akibat PR terbengkalai. Nggak ada tuntutan mata melototin guru yang persentasi nggak jelas. Yang persentasi tentang curhatnya saat kondangan. Curhatnya saat makan emping pakek sambel kecap. Tapi apa daya, adanya sekarang malah tuntutan emak dirumah suruh belanja diwarung sebelah. Gue disuruh beli kecap. Untuk buat sambel kecap tentunya.