C. The Angel -part III-


Gambar

“Sebelum menutup pintu rumah, kulihat sebuah cahaya kebiru-biruan menuju rembulan”

 

Pagi ini gue masih terbayang-bayang pertemuan gue semalam dengan wuLinda. Tak ada lagi ulah usil dikelas, main yoyo, atau kebiasaan lain… karena malam nanti gue harus bisa bertemu lagi dengan wuLinda.. sepenuhnya otak ini berkonsentrasi… Gue nggak mau jika pertemuan semalam hanya kebetulan saja..

 

Pukul tujuh malam gue berdiri disamping rumah, berdiri tegak menatap tajamnya rembulan. Gue pejamkan mata, “Ya Tuhan izinkan hamba bertemu malaikatMu”.. Merasa benar-benar kedinginan, tapi nggak menggigil, sesaat kemudian…

 

“Ridwan…” bisik sebuah suara lembut panggil nama gue seperti malam sebelumnya.

 

“Apa kau membawa apa yang kuinginkan?” Tanya gue.

 

“Jika yang kau inginkan adalah sebuah jawaban aku sudah membawanya..”

 

“Katakan padaku..!!” Gue agresif.

 

Dalam kedinginan itu seperti ada telapak tangan yang mengusap wajah gue. Lembut. Lalu pelan-pelan menjauh. “Aku akan hadir dalam mimipimu”, bisik wuLinda

 

“Terimakasih aku akan menunggumu” kata gue tersipu.

 

Malam itu juga gue tidur setelah pukul duabelas. Harapan satu, bisa melihat wajah wuLinda lewat mimpi. Gue yakin bahwa mimpi pada jam-jam tertentu bukan lagi sebagai bunga tidur. Tetapi bisa jadi saat-saat Sang Pencipta memberi petunjuk atau gambaran tentang kehidupan yang akan gue jalani.

 

Malam itu lewat tanpa mimpi. Saat azan subuh berkumandang dari mushola dipinggir dusun, dan gue terbangun, tidak sepotong mimpi pun berkelebat di benak gue. Apakah malaikat juga bisa berbohong?

 

Barulah pada malam ketujuh malaikat itu muncul didalam mimpi gue. Nggak bersayap seperti yang diimajinasikan para seniman Eropa abad pertengahan. Wajahnya memang imut-imut. Mirip wajah indo, blasteran Jawa-Eropa, mungkin bisa dibandingkan dengan Donita. Mula-mula ia tersenyum, memperlihatkan giginya yang kecil dan putih. Lalu tubuhnya bagian atas. Dadanya agak menonjol. Tertutup kain sutera warna biru laut. Apakah itu buah dada atau hanya sekedar daging tumbuh, gue nggak jelas untuk memastikan jika nggak dibuka kain penutupnya. Karena malaikat nggak jelas jenis kelaminnya.

 

“Benarkah kamu wuLinda?” Tanya gue. Malaikat itu mengangguk. “Tanpa sayap bagaimana kamu bisa terbang dan masuk kedalam mimpiku?”

 

“Aku diberi kelebihan oleh Sang Pencipta. Kelebihanku diatas manusia biasa. Namun jauh dibawah Dia”

 

“Heuum… apakah kamu juga punya roh, jiwa, dan hati, sehingga kamu bisa jatuh cinta?” Kejar gue dengan pertanyaan nakal.

 

“Ya. Tetapi sepanjang abad aku sendiri. Kepada siapa aku harus jatuh cinta?”

 

Gue menghela napas. “Sekarang sudah ketemu aku. Terus-terang, Jauh sebelum bertemu kamu, aku sudah jatuh cinta dengan rembulan. Sekarang, mungkinkah aku jatuh cinta kepadamu? ataupun sebaliknya?” Celoteh gue meyakinkan.

 

wuLInda tersenyum. Rupanya malaikat juga punya perasaan layaknya manusia. Tiba-tiba dia mengangguk. “Untuk pertama kalinya, sejak awal mula aku dicipta aku boleh jauh cinta dengan mahkluk ciptaan yang lain. Terima kasih…” wuLinda mengelus wajahku dengan kedua telapak tangannya. Lalu terbang melesat ke alam yang nggak bisa gue jangkau lagi.

 

Tiga malam kemudian berturut-turut tiga malaikat yang lain juga muncul didalam mimpi gue. Malaikat Kejora, wajahnya seram, seperti dikelilingi cahaya meteor. Ia nggak berkata sepatah katapun. Namun lama menatap gue. Gue hanya buang muka. Ia lihat dari kanan gue buang kiri dan sebaliknya. Lalu malaikat Suryahayat muncul. Seluruh tubuhnya seperti memancarkan panas yang luar biasa. Ia pun nggak berkata apa-apa. Malah terkesan minta dikasihani. Dan Partamawaga mirip patung ‘tera’. “Untuk apa kalian datang? padahal aku nggak mengundang loh? Berminat pun nggak untuk bertemu kalian” kata gue agak ketus sok lugu.

 

Tiga malaikat tertawa. Suaranya bergemuruh mirip suara gunung runtuh ato gempa bumi dahsyat. “Kami ingin seperti wuLinda. Jatuh cinta denganmu” Kata ketiganya kemudian. Lagi-lagi terdengar menggelegar, entah darimana sumbernya.

 

“Kalian gila.!” Umpatku. “Kita beda ciptaan..!!!”

 

“wuLinda juga beda. Mengapa dia kamu terima?”

 

“Dia lain. Wajahnya tidak seseram kalian. Lagipula aku sangat mencintai rembulan sejak awal”

 

“Terserah. Yang jelas kami bertiga juga sangat mencintaimu *MaHoDetected* “

 

“Mampus deh…!!” teriak gue keras-keras. Tiba-tiba mereka mundur, seperti mengambil jarak. Ketiganya menatap gue tajam-tajam. Seperti mengancam. “Tuhan, tolong ingatkan tiga malaikatmu itu, hamba nggak mau bercinta dengan mereka.!” Teriak gue didalam doa.

 

Tuhan mendengar. Tanpa diperintah tiga malaikat itu hilang begitu saja. Tidak pernah muncul lagi. Dan nggak pengen lagi digodain para MaHo deh! Dan setiap bulan purnama, malaikat wuLinda menyapa gue lewat mimpi. Kita saling mengasihani selayaknya dua manusia biasa yang berpacaran. Sesungguhnya semua makhluk ciptaan-Nya itu bisa saling berdampingan dan mengasihi. Jangan merasa kita sebagai manusia makhlukNya yang paling sempurna merasa hebat sendiri.

 

*melodramatik*

*sosaaaad*

 

#BERSAMBUNG#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s