A. AWAL KEMERDEKAAN HARI INI


Gambar

 

Jogjakarta

 

Pagi ini.

Kamar berantakan, kasur penuh noda nakal hasil mulut memproduksi iler. Gue terkapar dalam bawah alam sadar. Gue nggak mau tau ini jam berapa, biarin pokoknya. Gue nggak boleh sadar. Gue boleh ngiler aja. Terlintas ada anak sapi ngenyutin anu emaknya dalam mimpi. Gue hanya ngiler, nggak mupeng karena ngiler. Gue terkapar dalam cairan iler.

 

Jogja hari ini mulai bersinar, tapi gue masih ngiler dalam bunga molor yang dalam. Sedalam tanpa sadar gue nggali upil dalam lubang napas, penuh bulu rimbun. Sayangnya radiasi sinar matahari nggak pernah gagal menerobos kamar gue melalui setiap celah yang ada -sesempit apapun itu- dan menguapkan molekul-molekul malas dari ruangan ini.  Tapi gue lagi ingin bermalas-malasan, bukan karena gue pemalas. Karena mulai hari ini nggak ada lagi alasan untuk rajin mematuhi jadwal sekolah. Yeah. Nggak ada sekolah.

LULUS !! Nggak pengen nerusin kuliah dulu.

*goyangPantat* *ehhh*

 

Hari ini gue baru aja mengalami sensasi kemerdekaan. Lebih menyenangkan dari perasaan anak kecil yang melompat girang di lomba agustus-an. Gue melompat dari puncak, dalam lomba panjat pinang bung. Gue dapet sabun! Gue dapet shampo! Gue dapet susu bubuk kemasan plastik! Dan lebih mengharukan dari suasana kemerdekaan 1945 yang pernah gue baca dibuku sejarah. Para penonton lebih terharu lagi, gue tergeletak dalam sakratul maut terjatuh dari puncak pohon pinang! Gue terkapar memegang susu kemasan plastik! *kejang-kejang*

 

Beranjak dan gue jejakan kaki keluar, angin segar langsung menggoyangkan alis tebal gue. Alis tebal tanpa ketombe tanpa kerontokan pula. Karena rutin alis tebal dikeramasi majikannya. Serta mulut gue, memuncratkan cairan kemana-mana. Anginnya serasa secepat mobil balap. Menikmati matahari hanya melalui celah-celah awan putih sebagai pembalut. Pembalut yang cukup tebal dan anti mengkerut untuk gue pandangin. Sebuah pembalut yang elastis, bisa memuai pula sesuai keadaan penikmatnya. Seperti gue menikmati kesegaran angin pagi ini ditemani bau mulut gue yang menggelegar. Sejenak gue natap langit  yang membentang dari segala penjuru. Ahh. Andai langit adalah cermin, pasti para manusia dapat meliat orang yang ganteng saat gue ngaca. Dan gue mengibaskan poni tebal gue, mereka langsung berseru, “Lindungi rambut sodara-sodara! Awas, kutu ganas..awas hujan salju…awas sodara-sodara setanah air bangsa…!!! “

 

Pagi ini nggak ada namanya terlambat sekolah lagi. Yap bener. Nggak ada tuntutan pelajar dimarahin guru akibat PR terbengkalai. Nggak ada tuntutan mata melototin guru yang persentasi nggak jelas. Yang persentasi tentang curhatnya saat kondangan. Curhatnya saat makan emping pakek sambel kecap. Tapi apa daya, adanya sekarang malah tuntutan emak dirumah suruh belanja diwarung sebelah. Gue disuruh beli kecap. Untuk buat sambel kecap tentunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s